KEDUDUKAN AKHLAQ DALAM AJARAN ISLAM
Sesungguhnya beruntunglah orang”yang beriman, (yaitu) orang orang yang khusyu’
Dalamsholatnya, dan orang-orang yagn menjauhkan diri dari(perbuatan dan perkataan) yang tiada bergun, dan orang-orang yang menunaikan zakat,dan orang-orang yang menjaga kemaluanya”. (Qs. Al-mu’minun (23): 1-5)
Kedudukan akhlaq dalam ajaran islam terasa begitu penting, dan paling tidak ada lima hal yang menyebabkankita perlu sekali untuk terus menegakkan “akhlakul karimah” ditengah-tangah kehidupan kita. Lima hal tersebut adalah :
Pertama kita tahu bahwa misi ajaran islam yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW adalah untuk memberi rahmat bagi seluruh alam. Keberadan islam ditengah-tengah kehidupan masyarakat dan ditengah-tengah kehidupan dunia yang tidak lain adalah untuk memberi rahmat, kedamaian dan kesejahteraan bagi kehidupan manusia.
Untuk mencapai misi yang demikian itu maka ajaran islam mengatur mengenai hubungan manusia, tidak hanya hubungan secara vertikal dengan allah SWT tetapi juga hubungan manusia dengan makhluk lainnya. Ajaran Islam mengatur hubungan manusia dalam memperlakukan alm semesta, dalam memperlakukan tumbuh-tumbuhan, air, udara, dan lin sebagainya. Akhlaq yang demikian itu penting, oleh karena itu didalam kelangsungan hidupnya membutuhkan terhadap semua itu. Jika kita melihat saat ini terjadi kemarau, sehingga kita merasa begitu perlu terhadap air, maka disini juga terdapat suatu petunjuk betapa pentingnya kita memelihara kelangsungan, kejernihan, kebersihan, dan keberadaan air. Dalam satu anekdot penah terjadi dizaman kekhalifahan abbassyiah, bahwa salah seoranga bawahanya mengatakan kepada rajanya “Wahai baginda, bagaimana jika didunia ini tidak ada air ??” Baginda Raja mengatakan “Demi untuk air satu gelas itu saya rela mengorbankan seluruh kekayaan yang saya miliki.” Lalu ditanya lagi “ Bagaiman jika air satu gelas itu ada didalam perut dan tidak bisa keluar??”. Baginda Raja mengatakan “ Saya rela turun dari jabatan saya sebagai raja asalkan air itu bisa keluar dari perut.”
Anekdot ini menggambarkan betapa manusia begitu perlu akan air. Demikian juga terhadap lingkungan lainya. Jika saat ini kita menyaksikan terjadi kebakaran hutan melalui media masa dan media cetak maupun elektronik yang menimbulkan polusi udara, adalah juga tidak lepas dari akhlaq manusia. Ujung-ujungnya adalah manusia yang tidak memperhatikan petunjuk agama, sehingga melakukan kerusakan dimuka bumi, padahal allah SWT melarang berbuat kerusakan dimuka bumi “ Wala tufsidu Filardh”.
Kedua, Bahwa seluruh ajaran islam baik dari aspek aqidah, ibadah, sejarah, tashawuf, dan seluruh aspek ajaran islam lainya adalh terkandung misi akhlak yang mulia. Oleh sebab itu tidaklah berlebihan jia salah seorang pakar dari pakistan bernama fazlurrahman mengatakan didalam salah satu bukunya bahwa inti ajaran islam adalh akhlaq mulia yang bertumpu pada aqidah dan keadilan sosial. Tesis yang diajukan oleh fazhurrahman dalam bukunya itu dapat kita analisa, misalnya ajaran islam dalam aqidah (keimanan) ternyata berkaitan dengan akhlaq yang mulia. Islam mengajakan bahwa akidah tidak hanya sebagai keyakinan dalam hatiTashdiqun bilqaibi”, tetapi harus direfleksikan dalam ucapan. Seorang yang beaqidah tidak akan mengluarkan ucapan yang bertentangan dengan ketentuan allah SWT. Demikian juga perbuatan seorang yang beraqidah akan mencerminkan keimanannya tersebut.
Dalam kaitan inilah maka kita melihat saat korelasi antara iman dengan berbagai perilaku yang mulia. Surat al-Mu’minun (23) ayat 1-5 diatas mengajarkan kepada kita agar kita sholat dengan khusyu’, menjaukan diri dari segala sesuatu yang tidak ada gunanya, dalam arti lain Beroriantasi kepada prpoduk-produk kerja yang bermanfaat, mengeluarkan zakat yang mengandung ajaran hubungan vertikal kepada allah sebagaimana disebutkan oleh imam al-ghazali, dimana allah memiliki sifat dan nama-nama yang baikyang kemudian disebut “asmmaul Husna”, maka yang terpenting menurut al-imam al-ghazali adalah “attakhalluq biasmaillah”, yakni bagaimana kita berbudi pekerti yang diajarkan oleh nabi Muhamad SAW, dan bagaimana kita menghias diri dengan sifat-sifat mulia. Jika allah bersifat arrahman, alquwwah, ‘Alim dan sifat mulia lainya, maka bagaimana sifat-sifat itu dimanifestikan dalam seteiap pribadi orang beriman. Keimanan yang semikianlah yanga dapat memberi pengaruh terhadap akhlaq yang mulia.
Demikian juga dalam ibadah terkandung ajaran akhlaq yang mulia. Melalui shalat diharapkan dapat menjadi kendali (alat pengontrol yang efektif) bagi dirinya sendiri dari perbuatan keji dan munkar. Setelah kita menjalankan puasa diharapkan mampu mengendalikan hawa nafsunya menuju muttaqin. Melalui zakat diharapkan memiliki kepekaan sosial, dan dan melalui ibadah haji diharapkan menjadi hajji yang mabrur, yakni satu kualitas haji menuju perubahan kearah positif.
Ketiga, bahwa ajaran akhlaq demikian penting dalam ajaran islam disebabkan karena misi kerasulan nabi muhammad SAW adalah untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia “innama bu’itstu liutammimna makarimal akhlaq”,
Dan keempat, kita melihat dalam sejarah bahwa maju mundurnya suatu bangsa didunia juga sangat bergantung kpd akhlaq. Islam dulu pernah jaya, tidak hanya dalam bidang teritoral dan politik tetapi juga dalam bidang science. Tetapi kemudian terjadilah kemerosotan akhlaq dikalangan putra mahkota, yang tidak adanya kader-kader yang siap untuk melanjutkan kepemimpinan. Akhirnya runtuhlah kekuasaan islam.
Allah mengingatkan : “Dan apakah mereka mengadakan perjalanan dimuka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang yang sebelum mereka? Orang-orang itu lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kpd mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka allah sekali-kali tidak berlaku dzalim kpd mereka akan tetapi merakalah yang berlaku dzalim sendiri.” (QS. Arrum (30) :9)
Agar akhlaq Islam yang mulia itu bisa tertanam dalam diri kita masing-masing. Ada lima ciri akhlaq, yaitu : mempribadi, mudah dikerjakan, dilakukan atas kesadarn sendiri, dilakukan atas kesadaran sendiri, dilakukan dengan ikhlas karena Allah SWT. Insya Allah Amiiiiiiiiiiiiiiiiiin……….
Wallahu A’lam
“…. Dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. An-Nisaa’ :1)”
“Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekkinya dan dipanjangkan umurnya. Maka hendaklah dia melakukan silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim).”
“Seseungguhnya silaturrahim itu menimbukan cinta kasih dikalangan famili, merupakan sumber kekayaan dan menyebabkan umur panjang. (HR. Tirmidzi)”
.jpg)


.jpg)
.jpg)
.jpg)

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
komentarlah